Archive for cerpen

Cerpen “Mimpi yang Hilang”

 Mimpi yang Hilang

            Rega selalu merasa bahwa dunia ini tak adil. Keluarga yang harmonis, itu saja yang ia inginkan. Bukan keluarga yang penuh dengan perang mulut, suara pecah piring setiap hari, dan bahkan suara jerit Mama dan adiknya, Luna. Rega sebisa mungkin melindungi Mama dan adiknya, namun apa daya anak laki-laki yang baru berumur 15 tahun itu. Kekuatannya tak sama dengan Papanya. Dengan mudah ia dirubuhkan.

Dia tak tahu, bagaimana cara menghentikan Papanya. Berulang kali ia membujuk Mamanya agar bercerai dengan Papa, namun Mama selalu memberi jawaban yang sama. “Mama masih mencintai Papamu, Re. Mama yakin Papamu akan berubah.” Itulah yang selalu dikatakan Mama.

Rega merasa muak dengan Papanya. Ingin sekali ia pergi meninggalkan rumah itu, namun ia juga tak mungkin meninggalkan Mama dan adiknya.

***

            Itu adalah peristiwa 2 tahun yang lalu. Papanya sakit stroke saat ini, ia hanya terbaring lemah di kasur setiap hari. Tak bisa berdiri, apalagi berjalan. Rega hanya menganggap bahwa itu adalah hukuman dari Tuhan atas apa yang ia perbuat selama ini.

Ada satu hal yang Rega tak bisa mengerti. Mengapa Mama masih saja merawat Papa ? Setelah semua kekejaman yang dilakukan Papa. Apakah itu sebuah bentuk dari cinta ? Rega tak mengerti. Selama ini yang ia rasakan kepada Papa hanyalah kebencian, bahkan melihat Papa terbaring lemah sekalipun, rasa itu belum bisa hilang.

Memang, sekarang Papa bersikap lebih baik. Mungkin itu karena ia sedang sakit, Papa menyadari bahwa ia tak bisa apa-apa kalau tidak ada Mama. Ia juga meminta maaf kepada Mama dan anak-anaknya, Rega dan Luna. Mama tentu saja memaafkan Papa, Luna hanya terdiam, dan Rega, tatapan dingin yang ia berikan ke Papa. Bagimana pun juga kebencian itu susah untuk dihilangkan. Setiap kali ia ingat bagaimana Papa memperlakukan Mama dan adiknya, semakin besar amarah dan kebencian Rega.

***

            “Kamu masih 17 tahun kan, Re ? Kenapa tidak sekolah ?” Tanya pemilik toko tempat Rega bekerja.

Rega tersenyum kecil, “Alasan keluarga.” Hanya itu yang ia katakana. Ia tak suka membicarakan tentang dirinya sendiri. Lebih baik disimpan sendiri.

Rega kembali melanjutkan pekerjaannya.

Kriinng… kriingg.. kriingg… Telepon masuk untuk Rega dari Mama. Mata Rega sempat terbelalak dan wajahnya memucat saat menerima telepon itu. Setelah menutup telepon, Rega segera berlari keluar toko dan menghambur ke jalan. Secepatnya ia mencari bis atau angkot.

Rumah sakit Bangun Purna, tempat itu yang ia tuju. Rega berlari naik tangga ke lantai tiga rumah sakit dan memasuki salah satu kamar dengan nafas tak beraturan. Dilihatnya Luna dan Mama sedang menangis. Papa terbaring dengan kondisi kritis.

“Papa ingin bicara padamu untuk terakhir kalinya.” Itulah yang dikatakan Mama saat ditelepon.

Rega berjalan pelan mendekat. Ia memandangi Papa yang kesadarannya mulai hilang. Papa mengulurkan tangannya ke pipi Rega sambil berkata, “Maafkan Papa, Rega.”

Mata Rega basah, dan kemudian air mata mengalir ke pipinya. Melihat kondisi Papa yang seperti ini ia sadar bahwa bagaimana bencinya ia terhadap Papa, Rega masih mencintainya. Rega mengangguk pelan.

Terutas senyuman kecil di wajah Papa.

Tangannya yang menyentuh wajah Rega tiba-tiba jatuh ke kasur. Mata Papa pun mulai menutup perlahan. dan mesin pendeteksi jantung berbunyi panjang.

-Tiiiiiiiiiiiiitt-

           Tangisan di kamar itu pun pecah. Rega berdiri kaku di samping Papa, ia memegangi tubuh Papa, “Papa seharusnya bertanggung jawab atas kelakuan Papa ! Rega hanya ingin keluarga yang harmonis dan bahagia ! Papa belum sempat menanggung dosa-dosa Papa !” Rega terus berteriak sambil menangis dan menggoyang-goyangkan tubuh Papa. “Papa belum boleh pergi ! PAPA !!”

Mama memeluk Rega dan Luna, meskipun sambil menangis. Mama memeluk keduanya sekuat mungkin, seakan-akan mengatakan bahwa masih ada Mama di sini.

 

TAMAT

Cerpen “Kesaksian Tongkat Baseball”

Kesaksian Tongkat Baseball

Miris rasanya hatiku mengingat kejadian itu. Sakit, benar-benar sakit. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tak habis pikir aku dengan cara mereka memperlakukan orang lain dengan sangat kejam. Apakah hati mereka terbuat dari baja ? Bukankah mereka juga manusia biasa ? Tak sepantasnya mereka memperlakukan orang lain seperti binatang.

Kalau saja temanku tak menghentikanku, mungkin saja aku sudah memukul kepala mereka dengan tongkat baseball. Sungguh tak tahan aku melihat kelakuan mereka. Mereka mebuatku marah, membuatku muak.

***

            Matahari berada pada puncaknya. Keringat menetes di peluh dan badanku. Namun, tak sebanding dengan Dika, temanku, keringatnya bercucuran di sekujur tubuhnya. Tampak seperti seseorang yang usai mandi. Ia bermandikan keringatnya sendiri.

Aku sangat suka melihatnya bermain baseball, dan hari ini ia bermain dalam pertandingan baseball antar kecamatan. Timnya berhasil memboyong trofi juara satu hari ini. Aku sangat bangga padanya, dia memang sangat megagumkan.

Aku menyodorkan sebotol minuman kearahnya. Dengan sigap ia mengambil botol itu dan menegak habis air di dalamnya.

“Selamat ! Kamu menang lagi, Dik.” Kataku sambil mengambil kembali botol yang sudah kosong itu.

“Tentu. Kalau ada aku pasti semuanya beres.” Katanya dengan bangga.

Aku menyenggol bahunya dengan sikuku, “Dasar sombong viagra pharmacie ordonnance.” Kataku setengah mengejak. Kami berdua hanya tertawa bersama.

Aku membawakan tongkat baseball milik Dika, karena aku tahu bahwa ia kelelahan. Kami berdua berjalan beriringan kembali ke sekolah.

Terdengar suara keributan tak jauh dari tempat kami berada. Serentak aku dan Dika melihat ke arah datangnya suara keributan itu. Di pinggir jalan raya, sumber keributan itu datang. Tampak beberapa Satpol PP yang sedang bertengkar dengan pedagang kaki lima. Mereka saling berteriak satu sama lain.

Awalnya aku tak begitu menghiraukannya. Namun, saat kulihat Satpol PP itu mendorong nenek-nenek tua hingga jatuh tersungkur dan menendang barang daganganya hingga berserakan di jalan, aku tak bisa tinggal diam. Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju nenek tua itu. Tongkat baseball yang aku bawa dari tadi, hampir saja ku ayunkan ke arah kepala Satpol PP itu.

“Rena !” Dika menghentikanku dan segera merebut tongkat baseball itu dari tanganku.

Nafasku terengah-engah. Beberapa Satpol PP itu langsung berbalik badan dan melihat ke arah kami berdua. Aku menatap tajam kepada Satpol PP yang telah berbuat kejam kepada nenek tua itu. Aku berjalan ke arah nenek itu dan segera membantunya berdiri. Dika membantu merapikan dagangan nenek itu.

Beberapa Satpol PP itu tampak bingung. “Hei, anak kecil, apa yang kalian lakukan ?! Pergi sana jangan ganggu kami !” kata Satpol PP yang kejam itu.

Aku menatap tajam ke arahnya, “Bapak-bapak, apakah kalian tidak memiliki rasa hormat ?! Tidak memiliki hati ?! Apa kalian tidak bisa melihat bahwa nenek ini sudah sangat renta dan lemah ?!” kataku dengan lantang dan keras.

Satpol PP itu tampak beringas. Ia marah. Seakan-akan hendak menerkam kami. “Dasar anak kecil ! Jangan ganggu pekerjaan kami !” Ia mendorongku dan nenek hingga jatuh ke aspalan. Penjual kaki lima yang tadi bertengkar dengan mereka segera membangunkan kami, Dika juga ikut membantuku berdiri.

“Bapal-bapak, mungkin mereka bersalah karena berjualan di tempat ini. Namun, tidak begini caranya untuk menghentikan mereka. Tidak dengan kekerasan.” Dika pun ikut angkat bicara.

Sekali lagi Satpol PP itu menatap sengit, “Tau apa kalian anak kecil, huh ?!”

“Melakukan kekerasan terhadap orang lain adalah tindakan kriminal. Bapak-bapak bisa dituntut jika terjadi sesuatu pada nenek ini.” Dika membalas dengan penuh keyakinan di matanya.

Sebelum Satpol PP itu bicara, temannya menarik lengannya dan mengajaknya pergi, sepertinya ia mengerti kalau masalahnya akan jadi runyam jika dilanjutkan. Sepertinya salah satu temannya ada yang mengerti juga.

Aku dan Dika membawa nenek itu ke tempat yang teduh untuk beristirahat. Nenek itu mengucapkan terima kasih kepada kami. Sudah sepantasnya kami membantu nenek yang dianiaya oleh Satpol PP itu. Mereka benar-benar tidak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu kepada nenek tua yang dudah sangat lemah. Benar-benar keterlaluan. Tidak bisa dimaafkan.

Pedangan kaki lima yang tadi menemani nenek itu dan kami pun pamit pulang.

***

            “Orang-orang zaman sekarang, memang keterlaluan. Tak punya hati, tak punya moral.” Aku menggerutu sambil sesekali memukul-mukulkan tongkat baseball Dika ke tanah.

“Tidak semua orang seperti itu.” Katanya sambil merebut tongkat baseball itu dariku. “Lagi pula, itu sudah dua minggu yang lalu. Jangan terlalu dipikirkan.”

Aku memandang ke arah Dika untuk beberapa saat dan kembali merebut tongkat baseball itu darinya. Tongkat itu menjadi saksi lunturnya moral orang-orang masa kini.