Archive for Nur Chorimah

Sweet Poison

You come uninvited,

making your ways through,

destroying all the walls that I made,

cracking all the reasons that I held.

 

You are the reason why I smiled,

you also the reason why I cried,

making me went up and down,

messing me up as you wish.

 

You’re no more than a drugs,

making me feel so high,

then breaking me down,

tear me apart little by little.

 

I’m hurting,

I’m suffering,

it’s painful,

so much that I can’t take it.

 

That’s why viagra a acheter..

I’ll let you go,

I want to break free from this sweet poison,

cuz, all you do is killing me inside..

Upacara Bekakak

Upacara Bekakak adalah upacara penyembelihan sepasang boneka temanten (pengantin Jawa) muda yang terbuat dari tepung ketan. Upacara Bekakak dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Sapar, hari Jumat antara tanggal 10-20 di daerah Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta. Upacara ini dilaksanakan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I yang dianggap sebagai cikal bakal penduduk di daerah Gamping.

Ketika pembangunan Kraton Yogyakarta sedang berlangsung, para abdi dalem tinggal di pesanggrahan Ambarketawang kecuali Ki Wirasuta yang memilih tinggal di sebuah gua di Gunung Gamping. Pada bulan purnama, antara tanggal 10 dan 15, pada hari Jumat, terjadi musibah, Gunung Gamping longsor. Ki Wirasuta dan keluarganya tertimpa longsoran dan dinyatakan hilang karena jasadnya tidak ditemukan. Hilangnya Ki Wirasuta dan keluarganya di Gunung Gamping ini menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirasuta tetap ada di Gunung Gamping.

Selain itu, penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai bentuk pengorbanan untuk para arwah atau danyang-danyang penunggu Gunung Gamping. Dengan tujuan agar mereka tidak mengambil korban manusia, sekaligus berkenan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menambang batu gamping di sana. Karena kebanyakan masyarakat disana mencari nafkah dengan cara menambang batu.

Dalam pelaksanaan Upacara Bekakak ini terdapat 4 tahapan, yaitu :
1. Tahap Midodareni Bekakak
2. Tahap Kirab
3. Tahap Nyembelih Pengantian Bekakak
4. Tahap Sugengan Ageng

Midodareni Bekakak – Kata “midodareni” bersal dari bahasa Jawa “widodari” yang berarti bidadari. Di sini terkandung makna bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada pengantin bekakak. Tahap upacara ini berlangsung pada malam hari (kamis malam) dimulai ± jam 20.00. Dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe, semua diberangkatkan ke balai desa Ambarketawang dengan arak-arakan.

Kemudian semua jali dan lain-lain diserahkan kepada Bapak Kepala Desa Ambarketawang. Pada malam midodareni itu, diadakan malam tirakatan seperti hanya pengantin benar-benar, bertempat di pendhopo ataupun diadakan pertunjukan hiburan wayang kulit, uyon-uyon, reyog. Di tempat lain diadakan pula tahlilan yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dari kemusuk kemudian dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diikuti oleh penduduk sekitar. Di pesanggrahan Ambarketawang juga diadakan tirakatan.

Kirab – Tahap ‘kirab’ pengantin bekakak ini merupakan pawai atau arak-arakan yang membawa jali pengantin bekakak ke tempat penyembelihan. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke pesanggrahan. Juga diarak ke balai desa terlebih dahulu.

Nyembelih Pengantin Bekakak – Apabila arak-arakan telah tiba di Gunung Ambarketawang, maka joli pertama yang berisi sepasang pengantin bekakak, diusung ke arah mulut gua. Kemudian ulama (kaum) memberi syarat agar berhenti dan memanjat doa.

Selesai pembacaan doa, boneka ketan sepasang pengantin itu disembelih dan dipotong-potong dibagikan kepada para pengunjung demikian pula sesaji yang lain. Arak-arakan kemudia dilanjutkan menuju Gunung Kliling untuk mengadakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang kedua dan pembagian potongan bekakak yang kedua kepada para pengunjung. Adapun jodhang yang berisi sajen selamatan dibagikan kepada petugas di tempat penyembelihan terakhir.

Sugengan Ageng – Sugengan Ageng yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang ini dipimpin oleh Ki Juru Permana pada hari tersebut. Pesanggrahan telah dihiasi janur (tarub) dan sekelilingnya diberi hiasan kain berwarna hijau dan kuning. Sesaji Sugengan Ageng yang dibawa dari patran, berujud jodhang, jali kembang mayang, kelapa gadhing (cengkir), air amerta, bokor tempat sibar-sibar, pusaka-pusaka, dan payung agung telah diatur dengan rapi di tempat masing-masing.

Upacara ini dilaksanakan di Gunung Kliling selesai. Pertama-tama pembakaran kemenyan, lalu dilanjutkan oleh Ki Juru Permana membuka upacara tadi dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, dilanjutkan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah selesai maka dilepaskannya sepasang burung merpati putih oleh Ki Juru permana. Pelepasan burung merpati ini disertai tepuk tangan para hadirin yang menyaksikannya. Kemudian dilakukan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam joli rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I.

Sampai saat ini, Upacara Bekakak masih tetap lestari dan dilaksanakan setiap tahunnya. Warga pun tak bosan melihatnya karena pelaksanaannya yang seperti festival dan sangat menarik. Semoga Upacara Bekakak yang merupakan salah satu budaya dan kesenian Indonesia ini akan tetap terus lestari sampai kapan pun.

 

Berikut adalah foto-foto Upacara Bekakak :

SONY DSC

031113-Harian-Jogja-Kirab-Pelangi-Budaya-Bumi-Merapi-00 5529149a6ea834fd3d8b456b  Fest-Upacara-Adat-2015-197-1024x683

statik.tempo.co

<img class="size-medium wp-image-49 aligncenter" src="http://nurchorimah.blogs.uny.ac achat viagra en europe.id/wp-content/uploads/sites/2978/2016/01/bekakak-300×212.jpg” alt=”bekakak” width=”300″ height=”212″ srcset=”http://nurchorimah.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/2978/2016/01/bekakak-300×212.jpg 300w, http://nurchorimah.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/2978/2016/01/bekakak.jpg 634w” sizes=”(max-width: 300px) 100vw, 300px” />

 

 

Sumber :

http://sinausejarah1996.blogspot.co.id/2011/10/upacara-tradisi-bekakak.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ambarketawang,_Gamping,_Sleman

http://blog.ugm.ac.id/2010/10/31/upacara-adat-saparan-bekakak-di-ambarketawang-2/

Harapan Pedagang Kecil

Aku bukanlah seorang putri raja,

juga bukan bangsawan yang berlinang harta,

aku hanyalah gadis desa,

yang berjalan kaki ke pasar setiap harinya.

 

Menjajakan makanan kecil,

menawarkan dagangan kecil pula,

menggantungkan hidupku dengannya,

karena hanya itulah yang kupunya.

 

Senantiasa ku berharap,

agar kelak semuanya berubah,

menjadi lebih baik,

untukku dan untuk semuanya…

Cash Cash – Devil

another nice song, that’s it ! ^o^

“Devil”
(feat achat de viagra france. Busta Rhymes, B.o.B & Neon Hitch)

[Intro – Busta Rhymes (B.o.B):]
Cash Cash
Busta Bust
(It’s Bobby)

[Chorus – Neon Hitch:]
I been dancing with the devil, he was always good to me
And I’ve been walking in the shadow of a friendly enemy
But now I’m fucking rocking, living in the moment
Shoulda known that you would bring me down
Yeah, I been dancing with the devil, like, oh, oh, oh, oh

The Cash Cash make my ass bounce back

[Verse 1 – B.o.B:]
It’s Bobby
I guess I’ll play the bad guy
I swear I told you last time
You knew I wasn’t good for you
But you swore you hit the jackpot
And you swore you struck gold
You were stepping on your toes
Always tripping over nothing
But nothing’s on the floor
I swear the time it takes
To congregate and conversate
Just so things don’t complicate
I just don’t have the time of day
To try to pay attention to what your momma say
She just moving lips, moving lips
Talking ’bout stupid shit, stupid shit
And she don’t know how to keep the man
But she can move them hips, move them hips

[Chorus – Neon Hitch:]
I been dancing with the devil, he was always good to me
And I’ve been walking in the shadow of a friendly enemy
But now I’m fucking rocking, living in the moment
Shoulda known that you would bring me down
Yeah, I been dancing with the devil, like, oh, oh, oh, oh

[Verse 2 – Busta Rhymes:]
Let’s go!
And I love the way shorty get low
And the way she bending over and she touching on her toes
Momma see me looking at her then she wanna pose
I don’t even know why shawty got on any clothes
And you really know already what I’m gonna drop
Hella money, mami wanna come up to the top
I walk a little closer then I do my Diddy bop
I love the way she moving and the way she make it pop
And I’m loving the way that you’re making it bounce and you’re moving it, doing it
See the way that you’re breaking it down and you got them all losing it
Get it, lit, shake it, shake it
Bounce, turn up, level, level
Do it nasty like you out here dancing with the devil

[Bridge – Neon Hitch:]
Hey, hey, hey
I knew you were trouble, trouble, trouble
Don’t wanna look you in the fa-a-ace
I knew you were trouble, trouble, trouble

[Chorus – Neon Hitch:]
I been dancing with the devil, he was always good to me
And I’ve been walking in the shadow of a friendly enemy
But now I’m fucking rocking, living in the moment
Shoulda known that you would bring me down
Yeah, I been dancing with the devil, like, oh, oh, oh, oh

[Outro – Neon Hitch (Busta Rhymes):]
Shoulda known that you would bring me down
Yeah, I been dancing with the devil, like, oh, oh, oh, oh
[The Cash Cash make my ass bounce back]
(With the devil
W-w-w-with the devil
D-d-d-dancing with the devil)

True self

 

 

 

I’m sure everyone have a side of them that they don’t want to show to others…
DSC00804

Just kill me already…

so, how it feels to love someone you shouldn’t be ? | aah, I wanna die…

<img class="size-medium wp-image-33 aligncenter" src="http://nurchorimah.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/2978/2015/11/12246876_788314724647089_3158090963722134523_n-300×275.jpg" alt="12246876_788314724647089_3158090963722134523_n" width="300" height="275" srcset="http://nurchorimah.blogs.uny.ac livraison viagra rapide.id/wp-content/uploads/sites/2978/2015/11/12246876_788314724647089_3158090963722134523_n-300×275.jpg 300w, http://nurchorimah.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/2978/2015/11/12246876_788314724647089_3158090963722134523_n.jpg 960w” sizes=”(max-width: 300px) 100vw, 300px” />

Gambar anime 19 Nov 2015 ^^

Hai, hai… kemarin aku gambar anime, hahaha..

meskipun gk bagus bagus amat aku suka, karyaku soalnya 😀

bangga gitu 😛

ini ni, gimana menurut mu ??

guy

*yang atas “badass” tu ceritanya, lol xD

hug

*yg ini ceritanya cowok yg mengkhianati / nyakitin ceweknya, trus minta maaf ke ceweknya

Jeffree Star – Kiss it better

halo, guys..

lagi suka banget nih sama lagu yang satu ini, indah banget liriknya.. kalau lagi down banget terus dengerin lagu ini, perasaan jadi ada semangat baru dan cheer up lagi 🙂

Coba deh dengerin, dijamin suka ^^

Cerpen “Mimpi yang Hilang”

 Mimpi yang Hilang

            Rega selalu merasa bahwa dunia ini tak adil. Keluarga yang harmonis, itu saja yang ia inginkan. Bukan keluarga yang penuh dengan perang mulut, suara pecah piring setiap hari, dan bahkan suara jerit Mama dan adiknya, Luna. Rega sebisa mungkin melindungi Mama dan adiknya, namun apa daya anak laki-laki yang baru berumur 15 tahun itu. Kekuatannya tak sama dengan Papanya. Dengan mudah ia dirubuhkan.

Dia tak tahu, bagaimana cara menghentikan Papanya. Berulang kali ia membujuk Mamanya agar bercerai dengan Papa, namun Mama selalu memberi jawaban yang sama. “Mama masih mencintai Papamu, Re. Mama yakin Papamu akan berubah.” Itulah yang selalu dikatakan Mama.

Rega merasa muak dengan Papanya. Ingin sekali ia pergi meninggalkan rumah itu, namun ia juga tak mungkin meninggalkan Mama dan adiknya.

***

            Itu adalah peristiwa 2 tahun yang lalu. Papanya sakit stroke saat ini, ia hanya terbaring lemah di kasur setiap hari. Tak bisa berdiri, apalagi berjalan. Rega hanya menganggap bahwa itu adalah hukuman dari Tuhan atas apa yang ia perbuat selama ini.

Ada satu hal yang Rega tak bisa mengerti. Mengapa Mama masih saja merawat Papa ? Setelah semua kekejaman yang dilakukan Papa. Apakah itu sebuah bentuk dari cinta ? Rega tak mengerti. Selama ini yang ia rasakan kepada Papa hanyalah kebencian, bahkan melihat Papa terbaring lemah sekalipun, rasa itu belum bisa hilang.

Memang, sekarang Papa bersikap lebih baik. Mungkin itu karena ia sedang sakit, Papa menyadari bahwa ia tak bisa apa-apa kalau tidak ada Mama. Ia juga meminta maaf kepada Mama dan anak-anaknya, Rega dan Luna. Mama tentu saja memaafkan Papa, Luna hanya terdiam, dan Rega, tatapan dingin yang ia berikan ke Papa. Bagimana pun juga kebencian itu susah untuk dihilangkan. Setiap kali ia ingat bagaimana Papa memperlakukan Mama dan adiknya, semakin besar amarah dan kebencian Rega.

***

            “Kamu masih 17 tahun kan, Re ? Kenapa tidak sekolah ?” Tanya pemilik toko tempat Rega bekerja.

Rega tersenyum kecil, “Alasan keluarga.” Hanya itu yang ia katakana. Ia tak suka membicarakan tentang dirinya sendiri. Lebih baik disimpan sendiri.

Rega kembali melanjutkan pekerjaannya.

Kriinng… kriingg.. kriingg… Telepon masuk untuk Rega dari Mama. Mata Rega sempat terbelalak dan wajahnya memucat saat menerima telepon itu. Setelah menutup telepon, Rega segera berlari keluar toko dan menghambur ke jalan. Secepatnya ia mencari bis atau angkot.

Rumah sakit Bangun Purna, tempat itu yang ia tuju. Rega berlari naik tangga ke lantai tiga rumah sakit dan memasuki salah satu kamar dengan nafas tak beraturan. Dilihatnya Luna dan Mama sedang menangis. Papa terbaring dengan kondisi kritis.

“Papa ingin bicara padamu untuk terakhir kalinya.” Itulah yang dikatakan Mama saat ditelepon.

Rega berjalan pelan mendekat. Ia memandangi Papa yang kesadarannya mulai hilang. Papa mengulurkan tangannya ke pipi Rega sambil berkata, “Maafkan Papa, Rega.”

Mata Rega basah, dan kemudian air mata mengalir ke pipinya. Melihat kondisi Papa yang seperti ini ia sadar bahwa bagaimana bencinya ia terhadap Papa, Rega masih mencintainya. Rega mengangguk pelan.

Terutas senyuman kecil di wajah Papa.

Tangannya yang menyentuh wajah Rega tiba-tiba jatuh ke kasur. Mata Papa pun mulai menutup perlahan. dan mesin pendeteksi jantung berbunyi panjang.

-Tiiiiiiiiiiiiitt-

           Tangisan di kamar itu pun pecah. Rega berdiri kaku di samping Papa, ia memegangi tubuh Papa, “Papa seharusnya bertanggung jawab atas kelakuan Papa ! Rega hanya ingin keluarga yang harmonis dan bahagia ! Papa belum sempat menanggung dosa-dosa Papa !” Rega terus berteriak sambil menangis dan menggoyang-goyangkan tubuh Papa. “Papa belum boleh pergi ! PAPA !!”

Mama memeluk Rega dan Luna, meskipun sambil menangis. Mama memeluk keduanya sekuat mungkin, seakan-akan mengatakan bahwa masih ada Mama di sini.

 

TAMAT

Cerpen “Kesaksian Tongkat Baseball”

Kesaksian Tongkat Baseball

Miris rasanya hatiku mengingat kejadian itu. Sakit, benar-benar sakit. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tak habis pikir aku dengan cara mereka memperlakukan orang lain dengan sangat kejam. Apakah hati mereka terbuat dari baja ? Bukankah mereka juga manusia biasa ? Tak sepantasnya mereka memperlakukan orang lain seperti binatang.

Kalau saja temanku tak menghentikanku, mungkin saja aku sudah memukul kepala mereka dengan tongkat baseball. Sungguh tak tahan aku melihat kelakuan mereka. Mereka mebuatku marah, membuatku muak.

***

            Matahari berada pada puncaknya. Keringat menetes di peluh dan badanku. Namun, tak sebanding dengan Dika, temanku, keringatnya bercucuran di sekujur tubuhnya. Tampak seperti seseorang yang usai mandi. Ia bermandikan keringatnya sendiri.

Aku sangat suka melihatnya bermain baseball, dan hari ini ia bermain dalam pertandingan baseball antar kecamatan. Timnya berhasil memboyong trofi juara satu hari ini. Aku sangat bangga padanya, dia memang sangat megagumkan.

Aku menyodorkan sebotol minuman kearahnya. Dengan sigap ia mengambil botol itu dan menegak habis air di dalamnya.

“Selamat ! Kamu menang lagi, Dik.” Kataku sambil mengambil kembali botol yang sudah kosong itu.

“Tentu. Kalau ada aku pasti semuanya beres.” Katanya dengan bangga.

Aku menyenggol bahunya dengan sikuku, “Dasar sombong viagra pharmacie ordonnance.” Kataku setengah mengejak. Kami berdua hanya tertawa bersama.

Aku membawakan tongkat baseball milik Dika, karena aku tahu bahwa ia kelelahan. Kami berdua berjalan beriringan kembali ke sekolah.

Terdengar suara keributan tak jauh dari tempat kami berada. Serentak aku dan Dika melihat ke arah datangnya suara keributan itu. Di pinggir jalan raya, sumber keributan itu datang. Tampak beberapa Satpol PP yang sedang bertengkar dengan pedagang kaki lima. Mereka saling berteriak satu sama lain.

Awalnya aku tak begitu menghiraukannya. Namun, saat kulihat Satpol PP itu mendorong nenek-nenek tua hingga jatuh tersungkur dan menendang barang daganganya hingga berserakan di jalan, aku tak bisa tinggal diam. Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju nenek tua itu. Tongkat baseball yang aku bawa dari tadi, hampir saja ku ayunkan ke arah kepala Satpol PP itu.

“Rena !” Dika menghentikanku dan segera merebut tongkat baseball itu dari tanganku.

Nafasku terengah-engah. Beberapa Satpol PP itu langsung berbalik badan dan melihat ke arah kami berdua. Aku menatap tajam kepada Satpol PP yang telah berbuat kejam kepada nenek tua itu. Aku berjalan ke arah nenek itu dan segera membantunya berdiri. Dika membantu merapikan dagangan nenek itu.

Beberapa Satpol PP itu tampak bingung. “Hei, anak kecil, apa yang kalian lakukan ?! Pergi sana jangan ganggu kami !” kata Satpol PP yang kejam itu.

Aku menatap tajam ke arahnya, “Bapak-bapak, apakah kalian tidak memiliki rasa hormat ?! Tidak memiliki hati ?! Apa kalian tidak bisa melihat bahwa nenek ini sudah sangat renta dan lemah ?!” kataku dengan lantang dan keras.

Satpol PP itu tampak beringas. Ia marah. Seakan-akan hendak menerkam kami. “Dasar anak kecil ! Jangan ganggu pekerjaan kami !” Ia mendorongku dan nenek hingga jatuh ke aspalan. Penjual kaki lima yang tadi bertengkar dengan mereka segera membangunkan kami, Dika juga ikut membantuku berdiri.

“Bapal-bapak, mungkin mereka bersalah karena berjualan di tempat ini. Namun, tidak begini caranya untuk menghentikan mereka. Tidak dengan kekerasan.” Dika pun ikut angkat bicara.

Sekali lagi Satpol PP itu menatap sengit, “Tau apa kalian anak kecil, huh ?!”

“Melakukan kekerasan terhadap orang lain adalah tindakan kriminal. Bapak-bapak bisa dituntut jika terjadi sesuatu pada nenek ini.” Dika membalas dengan penuh keyakinan di matanya.

Sebelum Satpol PP itu bicara, temannya menarik lengannya dan mengajaknya pergi, sepertinya ia mengerti kalau masalahnya akan jadi runyam jika dilanjutkan. Sepertinya salah satu temannya ada yang mengerti juga.

Aku dan Dika membawa nenek itu ke tempat yang teduh untuk beristirahat. Nenek itu mengucapkan terima kasih kepada kami. Sudah sepantasnya kami membantu nenek yang dianiaya oleh Satpol PP itu. Mereka benar-benar tidak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu kepada nenek tua yang dudah sangat lemah. Benar-benar keterlaluan. Tidak bisa dimaafkan.

Pedangan kaki lima yang tadi menemani nenek itu dan kami pun pamit pulang.

***

            “Orang-orang zaman sekarang, memang keterlaluan. Tak punya hati, tak punya moral.” Aku menggerutu sambil sesekali memukul-mukulkan tongkat baseball Dika ke tanah.

“Tidak semua orang seperti itu.” Katanya sambil merebut tongkat baseball itu dariku. “Lagi pula, itu sudah dua minggu yang lalu. Jangan terlalu dipikirkan.”

Aku memandang ke arah Dika untuk beberapa saat dan kembali merebut tongkat baseball itu darinya. Tongkat itu menjadi saksi lunturnya moral orang-orang masa kini.