Archive for January 8, 2016

Upacara Bekakak

Upacara Bekakak adalah upacara penyembelihan sepasang boneka temanten (pengantin Jawa) muda yang terbuat dari tepung ketan. Upacara Bekakak dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Sapar, hari Jumat antara tanggal 10-20 di daerah Ambarketawang, Gamping, Sleman Yogyakarta. Upacara ini dilaksanakan untuk menghormati awah Kyai dan Nyai Wirasuta yang menjadi abdi dalem Penangsang HB I yang dianggap sebagai cikal bakal penduduk di daerah Gamping.

Ketika pembangunan Kraton Yogyakarta sedang berlangsung, para abdi dalem tinggal di pesanggrahan Ambarketawang kecuali Ki Wirasuta yang memilih tinggal di sebuah gua di Gunung Gamping. Pada bulan purnama, antara tanggal 10 dan 15, pada hari Jumat, terjadi musibah, Gunung Gamping longsor. Ki Wirasuta dan keluarganya tertimpa longsoran dan dinyatakan hilang karena jasadnya tidak ditemukan. Hilangnya Ki Wirasuta dan keluarganya di Gunung Gamping ini menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirasuta tetap ada di Gunung Gamping.

Selain itu, penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai bentuk pengorbanan untuk para arwah atau danyang-danyang penunggu Gunung Gamping. Dengan tujuan agar mereka tidak mengambil korban manusia, sekaligus berkenan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menambang batu gamping di sana. Karena kebanyakan masyarakat disana mencari nafkah dengan cara menambang batu.

Dalam pelaksanaan Upacara Bekakak ini terdapat 4 tahapan, yaitu :
1. Tahap Midodareni Bekakak
2. Tahap Kirab
3. Tahap Nyembelih Pengantian Bekakak
4. Tahap Sugengan Ageng

Midodareni Bekakak – Kata “midodareni” bersal dari bahasa Jawa “widodari” yang berarti bidadari. Di sini terkandung makna bahwa pada malam midodareni para bidadari turun dari surga untuk memberi restu pada pengantin bekakak. Tahap upacara ini berlangsung pada malam hari (kamis malam) dimulai ± jam 20.00. Dua buah jali berisi pengantin bekakak dan sebuah jodhang berisi sesaji disertai sepasang suami istri gendruwo dan wewe, semua diberangkatkan ke balai desa Ambarketawang dengan arak-arakan.

Kemudian semua jali dan lain-lain diserahkan kepada Bapak Kepala Desa Ambarketawang. Pada malam midodareni itu, diadakan malam tirakatan seperti hanya pengantin benar-benar, bertempat di pendhopo ataupun diadakan pertunjukan hiburan wayang kulit, uyon-uyon, reyog. Di tempat lain diadakan pula tahlilan yang dilaksanakan oleh bapak-bapak dari kemusuk kemudian dilanjutkan dengan malam tirakatan yang diikuti oleh penduduk sekitar. Di pesanggrahan Ambarketawang juga diadakan tirakatan.

Kirab – Tahap ‘kirab’ pengantin bekakak ini merupakan pawai atau arak-arakan yang membawa jali pengantin bekakak ke tempat penyembelihan. Bersama dengan ini diarak pula rangkaian sesaji sugengan Ageng yang dibawa dari Patran ke pesanggrahan. Juga diarak ke balai desa terlebih dahulu.

Nyembelih Pengantin Bekakak – Apabila arak-arakan telah tiba di Gunung Ambarketawang, maka joli pertama yang berisi sepasang pengantin bekakak, diusung ke arah mulut gua. Kemudian ulama (kaum) memberi syarat agar berhenti dan memanjat doa.

Selesai pembacaan doa, boneka ketan sepasang pengantin itu disembelih dan dipotong-potong dibagikan kepada para pengunjung demikian pula sesaji yang lain. Arak-arakan kemudia dilanjutkan menuju Gunung Kliling untuk mengadakan upacara penyembelihan pengantin bekakak yang kedua dan pembagian potongan bekakak yang kedua kepada para pengunjung. Adapun jodhang yang berisi sajen selamatan dibagikan kepada petugas di tempat penyembelihan terakhir.

Sugengan Ageng – Sugengan Ageng yang dilaksanakan di Pesanggrahan Ambarketawang ini dipimpin oleh Ki Juru Permana pada hari tersebut. Pesanggrahan telah dihiasi janur (tarub) dan sekelilingnya diberi hiasan kain berwarna hijau dan kuning. Sesaji Sugengan Ageng yang dibawa dari patran, berujud jodhang, jali kembang mayang, kelapa gadhing (cengkir), air amerta, bokor tempat sibar-sibar, pusaka-pusaka, dan payung agung telah diatur dengan rapi di tempat masing-masing.

Upacara ini dilaksanakan di Gunung Kliling selesai. Pertama-tama pembakaran kemenyan, lalu dilanjutkan oleh Ki Juru Permana membuka upacara tadi dengan mengikrarkan adanya Sugengan Ageng tersebut, dilanjutkan pembacaan doa dalam bahasa Arab. Setelah selesai maka dilepaskannya sepasang burung merpati putih oleh Ki Juru permana. Pelepasan burung merpati ini disertai tepuk tangan para hadirin yang menyaksikannya. Kemudian dilakukan pembagian sesaji Sugengan Ageng yang berada dalam joli rahmat Allah kepada semua yang hadir, terutama makanan tawonan kegemaran Sultan Hamengku Buwana I.

Sampai saat ini, Upacara Bekakak masih tetap lestari dan dilaksanakan setiap tahunnya. Warga pun tak bosan melihatnya karena pelaksanaannya yang seperti festival dan sangat menarik. Semoga Upacara Bekakak yang merupakan salah satu budaya dan kesenian Indonesia ini akan tetap terus lestari sampai kapan pun.

 

Berikut adalah foto-foto Upacara Bekakak :

SONY DSC

031113-Harian-Jogja-Kirab-Pelangi-Budaya-Bumi-Merapi-00 5529149a6ea834fd3d8b456b  Fest-Upacara-Adat-2015-197-1024x683

statik.tempo.co

<img class="size-medium wp-image-49 aligncenter" src="http://nurchorimah.blogs.uny.ac achat viagra en europe.id/wp-content/uploads/sites/2978/2016/01/bekakak-300×212.jpg” alt=”bekakak” width=”300″ height=”212″ srcset=”http://nurchorimah.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/2978/2016/01/bekakak-300×212.jpg 300w, http://nurchorimah.blogs.uny.ac.id/wp-content/uploads/sites/2978/2016/01/bekakak.jpg 634w” sizes=”(max-width: 300px) 100vw, 300px” />

 

 

Sumber :

http://sinausejarah1996.blogspot.co.id/2011/10/upacara-tradisi-bekakak.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Ambarketawang,_Gamping,_Sleman

http://blog.ugm.ac.id/2010/10/31/upacara-adat-saparan-bekakak-di-ambarketawang-2/